Mobrig Kompi 5165 aka Kompie Timor

  1. Introduction
  2. Asrama Bogor
  3. Penugasan
  4. Likuidasi dan Pemindahan Personel
  5. Roster

Mobrig Kompi 5165

Halo! Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi sedikit catatan mengenai salah satu unit yang jarang terdokumentasikan dalam sejarah Brimob: Mobrig Kompi 5165.

Informasi yang saya gunakan dalam tulisan ini sudah saya dapatkan izin publikasinya dari blog nickywritehistory

Kebetulan, dalam lot koleksi foto yang saya dapatkan baru-baru ini, ada beberapa foto yang memperlihatkan keberadaan Kompi 5165 — sebuah unit yang nyaris tak tersentuh dalam arsip resmi maupun literatur umum.


Introduction

Pada tahun 1951, karena kebutuhan operasional yang mendesak, dibentuklah satu unit khusus dalam tubuh Mobrig (sekarang Brimob) yang anggotanya berasal dari wilayah timur Indonesia, tepatnya dari Karesidenan Timor dan Kepulauannya—wilayah yang kini dikenal sebagai Nusa Tenggara Timur (NTT). Unit ini diberi nama Kompie 5165, namun lebih dikenal dengan sebutan “Kompie Timor.” (Angka 51: Tahun Pembentukan, Angka 65: nomor registrasi kesatuan).

Pembentukan kompi ini secara resmi disahkan melalui sebuah besluit (keputusan) yang ditandatangani oleh Kepala Kepolisian setempat saat itu, Titus Uly—salah satu tokoh penting asal NTT dalam sejarah kepolisian Indonesia.

Kompie Timor Mobrig

Setelah terbentuk, Kompie 5165 ditempatkan di Mega Mendung, Bogor, dan bergabung bersama kompi-kompi kedaerahan lain yang telah lebih dulu dibentuk, seperti Kompie Ambon, Kompie Sulawesi Utara, dan Kompie Makassar. Seluruhnya tergabung dalam struktur Mobrig yang pada masa itu sedang mengalami proses konsolidasi pasca revolusi fisik dan penguatan keamanan dalam negeri.


Asrama Bogor

Foto diambil di Mega Mendung, 1952 Asrama Mobrig 5165

Kompie-kompie Mobrig Kedaerahan — termasuk Kompie Timor ini — dibentuk oleh Pak Moehammad Jasin, terdiri dari personel eks-Tentara KNIL, eks-Polisi Belanda, hingga eks-Polisi Jepang yang memiliki latar belakang dan kualifikasi militer. Karena itulah, mereka dikenal sangat terlatih dalam taktik peperangan.

Mereka dikenal berani, tak kenal takut, dan dalam beberapa catatan bahkan disebut ganas terhadap lawan. Julukan sebagai pasukan “haus darah” pun muncul, bukan tanpa sebab — karena hampir seluruh anggotanya terjun langsung ke berbagai operasi tempur di berbagai penjuru tanah air.

Caption foto di atas, belakang foto

Citra “galak” dan militan ini semakin menguat ketika Komandan Kompi dipegang oleh Cornelis Djari — seorang tokoh tempur yang disegani dan dikenal sangat berani. Di bawah kepemimpinannya, semangat tempur anggota Kompie Timor semakin terasah. Disiplin, keberanian, dan ketegasan menjadi ciri khas mereka di lapangan. Tidak heran jika nama Kompie 5165 cukup ditakuti oleh lawan-lawan negara kala itu.

[Catatan: Pak Cornelis Djari sendiri kemudian melanjutkan pengabdiannya dengan menjabat sebagai Danres (Komandan Resort Polisi) di wilayah Belu, NTT, pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Sosoknya tetap dikenang sebagai pemimpin yang keras namun adil, dan punya pengaruh besar dalam membentuk karakter para anak buahnya sejak masa dinas di Mega Mendung]


Penugasan

Sejak awal pembentukannya di Mega Mendung pada tahun 1951, Kompie ini terus-menerus diterjunkan ke berbagai wilayah konflik di seluruh Indonesia mulai dari Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Makassar, Sulawesi Utara, Aceh, Maluku Selatan, dll.

Foto di Aceh Timur

Dokumentasi koleksi pribadi. Dalam foto ini, terlihat personel Kompie Timor saat bertugas di lapangan dalam operasi militer di Aceh Timur. Terdapat sebuah tanda “x” pada salah satu sosok dalam foto — penanda yang biasanya dipakai untuk menunjukkan diri sendiri. Besar kemungkinan album ini dulunya milik beliau, namun hingga saat ini, identitas beliau masih belum berhasil saya ketahui.

Screenshot

Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari Bung George Paulus, putra dari seorang mantan anggota Kompie Timor. Dikutip dari blog nickywritehistory, ia menceritakan bahwa seumur hidupnya hampir tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya dikarenakan selalu pergi beroperasi, nyaris tanpa jeda.

Anggota Kompie Timor jarang pulang. Sekalipun kembali ke markas di Mega Mendung, itu hanya untuk beberapa hari, sebelum kembali diberangkatkan ke daerah operasi. Komunikasi pada masa itu sangat terbatas, dan karena operasi tempur sering dilakukan di hutan belantara jauh dari kota, tidak pernah ada kabar yang sampai ke keluarga. Yang bisa dilakukan oleh para istri dan anak-anak yang menunggu di Asrama Mega Mendung atau di Keboeng Halang hanyalah berdoa dalam diam — berharap suami atau ayah mereka kembali dalam keadaan hidup.


Likuidasi dan Pemindahan Personel

Setelah hampir lima tahun menjalani masa tugas yang berat, Kompie Timor akhirnya dilikuidasi pada tahun 1955. Kompi ini secara formal dibubarkan, dan para anggotanya dimutasi ke satuan-satuan Mobrig yang tersebar di wilayah lain.

Sebagian besar dari mereka kemudian ditempatkan di dua kompi, yaitu:

  • Kompie 5113 di Kedung Halang, Bogor, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Corps 203 Kazernemen. Uniknya, hampir seluruh anggota kompi ini berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga secara tidak langsung melanjutkan kesinambungan etnis dan kultural dari Kompie Timor.
  • Kompie 5120 di Kelapa Dua, yang menjadi salah satu basis besar Brimob hingga sekarang.

Dengan pembubaran ini, Kompie Timor secara kelembagaan memang berhenti ada, namun jejak dan semangat para anggotanya tetap hidup dalam struktur baru, baik di Kedung Halang maupun Kelapa Dua.


Roster

Beberapa ex. anggota Kompie Timor atau Kompie 5165 adalah (Sort A-Z):

Ale (ayah dr Kombes Niko Ale) — Anthon Reke — Be’u Matta — Bora’a — Daud Kaha (Mertua dari Pendeta Abe Poli) — David Toelle — Frans Bandi –Frans Koan — Frans Patty — Gab. Nalle — Hadjaweo (ayah dr bung Lius Hadjaweo) — Helo (ayah dari bung AKBP purn Buce Helo) — Henuk — Ipu Radja — Jacob Manoe (Ayah dari zus Verra Manoe) — Johanis A. Paulus (ayah dari bung George dan bung Don Paulus) — Jusak Nalle — Lazarus Keirihi (ayah dari DR.Anthon Keirihi) — Leolaba — M. W. Hidelilo — Moldena — Musakabe (Mantri Kesehatan yang adalah Kakak dari Mayjen Purn TNI Bpk. Herman Musakabe) — Nawa (ayah dari bung Jack dan bung Imens Nawa) — Obbi Ndoen — Osias Lusi — Otniel Feoh — Piet Willy (oomnya nyonya Piet Rebo) — Rozet — Tomasui — Yan Thomas.


Terima kasih banyak kepada nickywritehistory

All rights reserved (c), Frownland Archive.

,

2 responses to “Mobrig Kompi 5165 aka Kompie Timor”

  1. Ternyata sudah sejak jaman dahulu, pendekatan ilmu antropologi dan sosiologi menjadi salah satu metode paling ilmiah dalam pembentukan pasukan khusus, setiap kelompok masyarakat memiliki karakteristik sendiri sendiri yang bagi sebagian orang adalah sulit memahaminya tetapi di tangan orang orang terpelajar akan lain ceritanya.

    Jadi bukan masalah ” senjatanya” tetapi bagaimana menyiapkan dan membina operator dibelakangnya.

    Like

Leave a comment