Salah satu dari koleksi lot foto saya ini terlihat Kolonel M. Bachroen (kiri) Panglima Teritorium IV Diponegoro, tengah berdiskusi dengan Letkol Soeharto (kanan) Komandan Resimen 13, dalam rangka perencanaan menghadapi pemberontakan Eks Batalyon 426 di Klaten circa tahun 1951–1952.

Terima kasih banyak kepada Pak Priyono @priyonocombat untuk narasinya.
Brigade Panembahan Senopati – Tanggal 1 Januari 1950, Komandan Brigade V Divisi II — yang terdiri dari Yon 351, Yon 352, Yon 353, dan Yon 354 — diserahkan kepada Letkol Slamet Riyadi. Beliau nantinya bersama Yon 352 (Bn Soeradji) ikut dalam operasi penumpasan RMS pada tahun yang sama. Tragisnya, Letkol Slamet Riyadi gugur dalam pertempuran di depan Gerbang Benteng Victoria pada 4 November 1950.
Selanjutnya pada 2 September 1950, brigade tersebut berganti nama menjadi Brigade Panembahan Senopati Divisi Diponegoro, dengan kekuatan lima batalyon yaitu Yon 415, Yon 416, Yon 417, Yon 418, dan Yon 419.
Kemudian, pada 2 Februari 1952 terjadi reorganisasi lagi yang mengubah struktur brigade tersebut menjadi Resimen yang dinamakan Brigade Infanteri-15/Sub-Territorial XV/Diponegoro. Satuan Yon yang berada di bawahnya adalah Yon 444, Yon 445, dan Yon 446.


Batalyon 419 dikerahkan untuk menghadapi pemberontakan
Eks Batalyon 426 di periode Desember 1951 hingga 9 April 1952. Pemberontakan ini dimulai dari kekuatan Yon 426 yang mulai memberontak pada 8 Desember 1951, yang sebagian besar personilnya terdiri dari mantan anggota Hizbullah dan Sabilillah di Surakarta, dan mendapat dukungan dari DI/TII.
Salah satu dari koleksi lot foto saya ini terlihat Kolonel M. Bachroen (kiri) Panglima Teritorium IV Diponegoro, tengah berdiskusi dengan Letkol Soeharto (kanan) Komandan Resimen 13, dalam rangka perencanaan menghadapi pemberontakan Eks Batalyon 426 di Klaten circa tahun 1951–1952.
All rights reserved (c), Frownland Archive.