SEKILAS KISAH NYATA TERTANGKAPNYA SM. KARTOSUWIRYO oleh Ara Suhara

SEKILAS KISAH NYATA TERTANGKAPNYA
SM. KARTOSUWIRYO

Disusun oleh: H. Ara Suhara
Anggota Ki C YONIF 328 Kujang II

Halaman 1

Pada tahun 1961, setelah menerima sprint dari Danyonif 328 Kujang II, seluruh anggota pasukan 328 pada jam 18.00 berangkat melaksanakan operasi menuju Gunung Burangrang. Setelah sampai di puncak gunung, pasukan 328 sempat menyalsikan Geromblan DI/TII V.C dengan rakyat/hansip sambil mencuri barang-barang milik rakyat. Di sana pasukan 328 tetap di tempat sambil menunggu kembalinya gerombolan kembali ke Gunung Burangrang. Di sana pasukan siap siaga untuk menghadang gerombolan tersebut. Kira-kira pukul 06.00 pagi, gerombolan mulai naik ke Gunung Burangrang dengan membawa hasil curian dari masyarakat seperti, beras, hewan dsb. Setelah mereka tiba di depan pasukan ± 2 m, kemadian pasukan Ki C membuka tembakan ke arah Gerombolan DI/TII. Beberapa puluh pasukan Gerombolan DI/III tewas, yang lainya lari berpencar ke arah selatan. Di sana sudah ada Ki B yang memukul mundur mereka. Sehingga di sana pun memakan korban di pihak geombolan. Lalu mereka menuju arah utara dan ndipukul oleh Ki A, Setelah itu ke arah timur dan dipukul oleh Ki B, Lalu ke arah barat dipukul oleh Ki D, sehingga gerombolan panik. Karena itu waktu T.O 6 bulan dapat diselesaikan selama 3 bulan dan dinyatakan bahwa gunung Burangrang aman.

Kemudian pasukan 328 melanjutkan pengejaran ke daerah Cililin. Dari Cililin lalu ke daerah Ciwidey ke Gunung Patuha. Pada saat itu di Gunung Patuha Danton I langsung mengatar pasukan. Maksudnya ialah untuk membuat. “PAGAR BETIS” jangan sampai gerombolan lolos. Tetapi belum juga selesai mengatur pasukan, tiba-tiba gerombolan menabrak pasukan dan sebagian lolos. Saat itu pula pasukan telah siap untuk mengikuti gerombolan yang lolos menuju daerah Pangalengan.

Halaman 2

Keesokan harinya, kira-kira pukul 06.00 pagi pasukan berangkat lagi mengikuti Jejeak mereka. Selama ±3 hari pasukan terus mengikuti jejaknya. Pada akhir nya pasukan kehabisan bahan makanan. Oleh karena itau mereka langsung mengubah arah ke kiri menuju Gunung Rakutak, lalu turun ke daerah Pacet dan beristirahat di Kampung Joglo sambil menunggu pasokan Bahan makanan dari Seksi Logistik.

Kira-kira jam 17.00 Seksi Logistik datang dan membagikan bekal kepada semua anggota, lalu pasukan bermalam di kampung itu.

Malam harinya di daerah Kampung Pangauban terjadi penggarongan yang dilakukan oleh gerombolan. Tempat kejadian berdekatan sekali dengan pasukan Yon 301. Ternyata mereka adalah gerombolan yang lolos dari pagar betis. Pada malam hari itu pun Ki C 328 melakukan pengecekan ke tempat kejadian. Pada pagi harinya pukul 06.00 pasukan tersebut mengikuti jejak mereka dan menemukan hasilnya.

Dan Ki C memerintahkan pada anggotanya untuk siap bergerak melalui Kampung Ciseureuh, Kampung Loa, Kampung Salawi, lalu naik ke daerah Cibatur. Setelah itu pasukan memasuki hutan, kemudian pencaharian jejak dihentikan karena hari telah gelap. Saat itu semua pasukan beristirahat dan bermalam.

Keesokan harinya pasukan kembali mengikuti jejaknya hingga ke daerah Danau Ciharus namun jejak tersebut hilang. Kurang lebih 2 jam mencari jejak tidak ketemu-ketemu Dan Ki C, Letda Suhanda marah kepada anggota pasukannya. Saya, Sersan Ara Soehara,Ba Ton yang bertugas mengawasi ke belakang, merasa khawatir dan mempunyai rasa tanggung jawab penuh. Terpaksa saya melangkah menghadap Dan Ki C dan berkata, ” Mohon Bapak karena sudah kecapaian istirahat saja dan mohon saya diizinkan untuk melanjutkan pencaharian jejak. Setelah dizinkan saya berangkat dan terus menyebrang sungai yang mengalir ke daerah Kampung Garuda Ngupuk Pasek. Dengen tellti sekali saya melekuken pencaharian Jejak. Alhamdulillah saya temukan kemball, kemudian saya memanggil anggota pesiruh Dan Ki yang

Halaman 3

bernama Pendi. Saya berkata, “Pendi leporken pada Dan Ki jejak telah ditemukan lagi, oleh karena itu harus sabar jangan disertai emosi. Tidak lama kemudian Dan Ki datang sambil bertanya, “Mana Ra ?. “Ini”, jawab saya. berkata kepada Dan Ki, “Saya mohon Pak, bekas ini tidak akan saya berikan kepada anggota takut hilang lagi, biar oleh saya saja. “Biar oleh persepit saja” Jawab Danki. “Biar saya saja persepitnya”, saya kemball berkata. Akhirnya Dan Ki mengizinkan. Lalu pasukan bergerak lagi. Saya jadi Persepit, terus maju naik geger Gunung Geber.

Bekas di geger Gunung Geber itu benar-benar nyata seperti jalan yang sudah dipersiapkan. Seketika itu pula perasaan saya sama sekali tidak enak, seperti ada perasaan untuk tidak melanjutkan pada jalan tersebut. Ternyata benar, kalau kita terus jalan mengikuti geger itu kita semua akan masuk perangkap. Selanjutnya saya memberikan tanda tanda berhenti ke belakang, kemudian saya menutup jalan yang terus ke atas dengan daun-dauan sebagai tanda untuk tidak melewatiya. Saya mengambil inisiatif mengambil jalan ke sebelah kiri dengan jalan menerobos (potong kompas). Ternyata jalannya sangat sulit untak dilewati karena ada jurang yang sangat curam. Karena kemurahan dan kasih sayang Allah, saya melihat ke sebelah kiri. Di situ ada pohon yang tumbang dengan dua batang areuy yang bisa digunakan jalan oleh pasukan. Karena jalan sangat sulit, saya sendirian yang langsung masuk (menyeberangi) dan terus maju ke depan sampai di tempat yang strategis. Saya tiarap sambil melakukan pengamanan pasukan yang sedang menyebrang. Tiba-tiba terdengar banyak suara manusia, saya maju lagi ke depan dan terus tiarap sambil mendengarkan suara tadi, dan mengawasi jauh ke depan. Takut ada kawan kita, jangan-jangan Kompi A atau Kompi B, karena kita benar-benar memperhatikan amanat Dayon harus perang di ujung laras. Ternya yang pertama saya lihat adalah yang berpakaian loreng, tidak lama kemudian terlihat ada yang memakai pakaian hijau. Pada waktu itu saya lebih waspada. Akhirnya terlihet benar pakaiannya campuran. Dugaan saya meyakinkan bahwa itu adalah gerombolan.

Halaman 4

Pengawasan saya lebih teliti dan waspada melihat jauh ke atas setiap pohon kayu sudah dikuasai oleh dua orang. Saya tetap tiarap tidak bergerak, sambil menunggu kawan-kawan datang, tetapi belum ada yang muncul. Tiba-tiba datang dua prajurit Si Omon dan Si Entur. Dari jauh saya sudah memberikan isyarat agar berjalan pelan-pelan dan waspada. Setelah kedua anggota itu menghampiri saya, saya perintahkan pada Omon, “Mon jaga kemungkinan pemunduran mereka ke sini karena di sebelah kiri ada alur ke ring bekas kali kevil (susukan leutik)”. Kepada prajurit Entur saya perintahkan, “Lindungi saya oleh tembakan, saya mau masuk”. Kata prajurat Entur, “Nanti dulu, Pak, kawan-kawan masih jauh. Beberapa menit kemudian Dan Ton Peltu Amir terlihat muncul. Kemudian saya beri isyarat agar waspada dan jalan pelan-pelan. Setelah menghampiri saya, saya tunjukan keadaan gerombolan yang ada di depan, lalu saya ajak Pak Amir, “Mari kita masuk!”. Kata Pak Amir, ” nati dulu tunggu kawan”. Saya katakan lagi, “kalau menunggu kawan serangan kita akan gagal lagi, sebab kalau kita perhatikan, manusia manusia berjalan di hutan 4-5 orang suaranya akan terdengar dari jauh. Sekarang begini saja, kalau ada apa-apa saya bantu oleh tembakan, saya akan masuk !”, kemudian saya membaca Bismillahirah-maanirrahim, masuk dengan merayap perlahan-lahan ±10 M ke sasaran, saya berdiri, tiba-tiba Pos pengawal melihat saya sambil menarik tangkai penegang, krak … tapi tidak sampai menarik picu, sebab sudah didahului oleh sayadi-tembak, saya sudah siap sedia. Kemudian mereka yang ditembak oleh saya masih bisa lari mendekati Aceng Kurnia dan saya langsung sergap sambil menusukan senjata saya pada perut Aceng Kurnia sambil berteriak ” angkat tangan! pasukan saya sudah ada disekelilingmu, cepat panggil anak buah mu untuk menyerah, ” tapi Aceng kurnia malah mencabut pistol dari pinggangnya, kata saya, “lepaskan senjatamu, cepat panggil anak buahmu untuk menyerah dengan syarat senjatanya disandang dan larasnya kebawah. Kemudian Aceng Kurnia berteriak memanggil anak buahnya , “saya pimpinanmu semua turun untuk menyerah”, pada waktu itu Bpk. Amir datang membantu saya, kata saya, “Pa Amir, ambil senjatanya”, Pa Amir langsung mencabut senjatanya Aceng Kurnia.

Halaman 5

tib-tiba pasukan kita datang sambil berteriak ciat….. lebih panik lagi mungkin mereka.

Setelah anak buah Aceng Kurnia pada turun, saya sarankan kepada Pak Amir agar semua senjata yang menyerah di hurun (diikat dijadikan satu), karena ada Jalan setapak ke sebelah kira, maksud saya akan pengamanan, saya terus menelusuri jalan tsb. ± 50 M. kelihatan ada gubug terus saya dekati, ternyata didepan Gubug itu ada seorang anak muda dan langsung anak muda tsb. angkat tangan ke atas kepala. Saya tarik kerah leher bajunya ke bawah, setelah ada dibawah pohon, kata saya, “diam kamu disitu!”. Kemudian saya masuk kedalam Gubug, saya meras kaget karena dipinggir pintu ada makanan yang serba enak seperti, Jeruk Garut, dodol Garut, susu dan lain sebagainya. Dalam pikiran saya, ini pasti Pak Karto, saya berani bersumpah belum pernah ketemu muka SM. Kartosuwiryo. Begitu saya masuk lihat ke sebelah kiri ada kakek-kakek. secara serentak saya megatakan ” Oh Pak Karto ?, Pak Karto menjawab; “sambil merangkul saya ” Oh iya nak, memang tiga hari sebelum ana datang Bapa sudah tahu bahwa ana bakal datang”. lama sekali Karto Suwiryo merangkul saya, malahan arloji merk Rolex nya lepas dari tangannya dan saya pasang lagi pada tangan kirinya. Malahan kata Pak Karto, “tunggu sebentar Nak”, kemudian kepala saya ditundukan, maaf nak , katanya terus saya di jampe, ditiup kepala sayadan punduk saya diludahi, setelah selesai dijampe saya langsung berdiri mngambil sikap sempurna, saya memberikan penghormatan kepada Pak Karto dan langsung saya mnyodorkan tangan kanan sambil mengucapkan terima kasih Pak, kita keadaan selamat semuanya, “Ya ” kata Pak Karto. Kemudian Pak Karto tanya saya, “mana pimpinan ana?” saya jawab masih jauh Pak!. Coba panggil Komandan ana, saya Jawab ” tunggu sebentar Pak”. Saya tenang saja melihat -lihat didalam sekitar gubugnya, disebelah kanan, saya melihat ada dua ransel, saya coba buka oleh lup senjata, begitu terbuka terlihat uang banyak, diransel yang satunya lagi Emas yang sudah menjadi gelang, kalung erloji dil. dan saya melihat ke atas ada kopel dengan semua jimat-Jimatnya. kata saya,” itu Pak termasuk alat-alat perang juga”, Jawab Pak Karto,” Ya nak bapak kasih untuk anasemuanya. Kemudian Pak Karto memanggil anaknya si Dodo yang ada di depan Gubug tadi, katanya, ” Dodokesini,” si Dodo

Halaman 6

datang masuk gubug ,” ada apa Pak”, Pak Karto sambil menunjuk itu semua jimat-jimat Bapak berikan pada sersan Ara”, kemudian si Dodo mengambil jimat-jimat diberikan pada saya. Kata saya, ” tolong masukan pada ransel saya semua, saya balik kanan, si Dodo membuka ransel di pundak saya, setelah selesai memasukan jimat-jimat pada ransel saya, saya memerintahkan si Dodo untuk keluar dari dalam gubug. Kemudian pikiran saya berubah saya nekad kartosuwiryo dan anaknya si Dodo akan saya bunuh, tapi mungkin Pak Karto sudah mempunyai perasaan dan melihat muka saya merah dan agak keras. Pak Karto berulang-ulang menyuruh saya untuk mencari komandan kompi , saya jawab secara keras, “tunggu Pak! saya belum beres berbicara denganmu! Tak lama kemudian Pak Karto dengan lemah lembut manggil saya, katanya,” Nak kesini mendekat sebentar,” terus saya mendekat, Pak karto bilang,” Istri mu sedang hamil ya nak?, kata saya,” Ya”, kata Pak Karto, “Putranya bakal lelaki Nak “, sambil mencabut pulpen dari sakunya, “ini tanda mata dari Bapak untuk putramu nanti, dan bapak doakan putramu mudah-mudahan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan agamanya,” kata saya, “Amin”. itu bicaranya pak Karto memang benar anak saya yang no. 2 memang baru enam bulan hamil, begitu sudah waktunya lahir, anak saya lahir laki-laki, dan langsung saya beri nama, : ASEP SEKAR IBRAHIM, sekar mengambil nama SM. Kartosuwiryo, dan Ibrahim mengambil nama Panglima Ibrahim Adji. Alhamdulillah anak saya sekarang jadi penerus saya, saya bangga punya anak bersejarah dan sekarang sudah jadi Dr. Tentara dengan pangkat Kapten. Yang akhirnya berdialog dengan Pak Karto agak lama, juga keadaan pikiran saya sadar, saya berpikir kalau Kartosuwiryo dan si Dodo tadi di bunuh mungkin Jawa Barat ini tidak akan aman. Lalu saya mohon izin kepada Pak Karto sambil menyampaikan penghormatan untuk mencari Komandan kompi Letda Suhanda.

Begitu keluar dari Gubug Kartosuwiryo, saya melihat ke blakang gubug ada Prajurit Kosasih dan Prajurit Dana saya panggl kedua prajurit itu dan saya perintahkan “Jaga Pak Kartosuwiryo ini”. Saya akan mencari Danki, kemudian saya mencari Danki ± 1,5 jam, baru diketemu Danki Suhanda. Saya laporan pada Danki,” Lapor!

Halaman 7

Kartosuwiryo telah tertangkap!”. “Di mana, RA?”, ia balik bertanya. “Di situ, Pak !, mari ikuti saya”, jawab saya.Setelah sampai di gubuk, saya melapor kepada Pak Karto, “Ini, Pak komandan saya! Dan Ki masuk ke dalam gubuk sementara saya tetap melakukan pengamanan di luar gubuk. Sya tidak tahu entah apa yang dibicarakan oleh kedua pimpinan itu. Setelah terjadi dialog antara Pak Suhandan dan Pak Kartosuwiryo selama ± 1 1/2 jam, Pak Letda Suhanda keluar dan memanggil saya. “Ada apa, Pak?”, tanya saya. Ia melanjutkan perkataannya, “Masih ada nasimu?”. “Masih ada, Pak. Kebetulan saya belum makan, jawab saya. Memang sakig gembiranya saya tidak mau makan. Kemudian saya membuka ransel mengambil misting yang berisi nasi dan ikan asin peda. Dan Ki kembali memberikan perintahnya, “Sekalian saja ponconya dikeluarkan untuk membuat tandu. Akhirnya saya berikan sehingga rantang dan mantel dalam ransel harus saya relakan.

Setelah pembuatan tandu selesai, Pak Karto dinaikkan ke atas tandu dan diusung menuju Danau Ciharus, di daerah tempat titik berkumpul. Di situ sudah ada Ton II pimpinan Pak Ali Supi dan Perleton III pimpinan Pak Harun/Mujiman.

Setelah rombongan Dan Ki dan usungan Kartosuwiryo tiba di titik berkumpul, tiba-tiba hujan besar sekali disertai angin dan petir. Pak suhanda kembali memanggil saya, “Ara, coba naik, panjat pohon itu!, Cari arah Paseh!”. Saya merasa bingung karena angin besar, tapi saya berusaha naik sambil berdo’a kepada Allah semoga diberikan petunjuk. Setelah mengamati arah, kemudian saya turun dan memberi laporan pada Dan Ki, “Selesai, Pak!, saya minta dua regu untuk membuat jalan. Setelah anggota yang berkekuatan dua regu berkumpul kemudian saya pimpin dengan memulainya dengan membaca basmalah. Kami mulai membabat jalan, kemudian potong kompas. Curam atau landai tidak kami lihat hingga kami tiba di tempat tujuan. Entah berapa jam perjalanan yang saya tempuh, Alhamdulillah terdengar suara manusia yang sedang melakukan pagar betis.

Halaman 8

Kartosuwiryo telah tertangkap. Kata Danki di mana, Ra ?. “Di situ Pak, mari ikuti saya. Setelah sampai di gubuk Kartosuwiryo saya masuk lagi ke gubuk. Laporan pada pak Karto, “Ini Pak komandan saya”. Kemudian Dan Ki masuk. Saya tetap pengamanan di luar gubuk. Entah apa yang dibicaraken oleh kedua pimpinan itu saya tidak tahu. Setelah berdialog Pak Suhandan dan Pak Karto itu ± setengah jam Pak Suhanda keluar dan nemanggil saya. “Ada apa, Pak ?, kata saya. “Masih ada nasimu?”. Kata saya ada, ‘kebetulan saja juga belum makan. Memang saking gembira tidak mau makan. Terus saya membuka ransel mengambil misting nasi dengan asin peda. Kata Dan Ki sekalian saja ponconya dikeluarkan untuk membuat tandu. Saya berikan hingga sekarang rantang dan mantel tidak datang lagi terus hilang. Setelah pembuatan tandu selesai, Pak Karto naik tandu langsung diusung menuju Danau Ciharus di daerah tempat titik berkumpul. Di situ sudah ada Ton II Pak Ali Supi dan Peleton III Pak Harun/Mujiman. Setelah rombongan Dan Ki dan usungan Kartosuwiryo sampai di tempat titik berkumpul. Tiba-tiba hujan besar sekali disertai angin dan petir. Pak Suhanda manggil lagi saya “Ara, coba naik manjat pohon itu! Cari arah paseh!. Saya merasa bingung karena angin besar tapi saya berusaha naik sambil berdoa pada Allah semoga diberikan petunjuk. Selesai melihat-lihat arah dan perasaan saya tenang terus turun dan loporan pada Dan Ki, kata saya selesai Pak, minta dua regu untuk membuat jalan, Setelah anggota yang duaregu kumpul, saya bawa mulai dengan membaca basmalah dimulai membabat jalan terus saya potong kompas tidak dilihat daerah curam landai, pokoknya saya sampai di tempat tujuan, entha berapa jam perjalan yang saya tempuh, alhamdullah sudah terdingar suara, yang sedang pagar betis. Yang akhirnya sampai pada rakyat yang sedang pagar betis. Pada waktu itu saya saya memberitahukan kepada Bapak-Bapak, “Ayeuna urang pulang ka masing-masing lembur sabab Kartosuwiryo sudah tertangkap. Ayeuna mah bejaan bae ka sabeulah kiri/kanan batur urang” “Naha leres Pak Kartosuwiryo teh kenging?”. Jawab saya bener, saya

Halaman 9

saya moal bohong. Ger segala dipukul, ada yang mukul- mukul kohkol, rantang/piring apa yang ada dipukul. Sepontan Bapak-papak yang pagar bitis ngomong pada saya katanya Bapak saya mau kaul. Bapak-bapak sekarang mau menuju ke mana ?. Kata saya mau menuju Paseh. Sudah Pak, Bapak saya gendong secara aplusan sampal di Paseh. Setelah saya sampai di Paseh, kalau tidak lupa pada waktu itu yang ada di perwakilan ialah Lettu Ojeh. Kepada beliau saya laporkan, “Pak Ojeh saya diperintah oleh komandan kompi, Bapak harus menghubungi Danyon sampaikan kepada Danyon, Kartosuwiryo telah tertangkap dan sekarang juga sedang di perjalanan akan menuju ke Paseh. Kemudian Bapek Lettu Ojeh segera menghubungi Danyon. Kebetulan Danyon sedang dinas rapat di KODAM. Tidak beberapa lama kemudian rombongan Dan Ki dan Kartosuwiryo datang ke Paseh seluruh rakyat Paseh sangat bergembira. Toko-toko, warung-warung dibuka. Semua makanan dihadiahkan pada tentara dan gerombolan DI/TII. Setelah selesai rakyat Paseh menjamu, Dan Ki memanggil para Dan Ton untuk menempatkan masing-masing anggotanya sambil menjaga keamanan untuk diperketat. Kira-kira ± jam 22.00 kalau tidak salah Danyon tiba di Paseh dan langsung menemui S.M.K Kartosuwiryo. Setelah selesai mengatur ngatur kendaraan untuk pasukan kita dan untuk gerombolan DI/TII ± jam 23.30 rombongen berangkat menuju ke Cipanas Garut. Di perjalanan persis persimpangan Kadungora/Rancasalak, kendaraan yang ditumpangi Pak Suhanda dengan saya keluar dari iringan konvoi berhenti di pinggir jalan. Kira saya Pak Suhanda mau buang air kecil, akan tetapi Pak Suhanda memerintah saya turun dari kendaraan. Katanya,” Maneh tong ngilu ka Cipanas, Istirahat bae di Rancasalak (di C.OV). Padahal pada saat itu sudah menunjukkan jam 01.30 WIB sedangkan jarak antara Kadungora-Rancasalak ± 7 km. Juga daerah Kandungora itu basisnya DI/TII. Saya sebagai prajurit saptamarga melaksanakan perintah. Langsung saya jalan kaki sendirian walaupun keadaan bagaimana sulitnya. Dalam perjalan menuju daerah Rancasalak setiap 4-5 langkah saya langsung tiarap, mellhat situast kIrI-kanan,

Halaman 10

bangun lagi, Berangkat lagi. Begitu dan begitu seterusnya yang akhirnya pada kira-kira ± Jam 04.00 subuh sampai di depan C.O.V. Rancasalak.

Tiba-tiba yang sedang jaga di kantor C.OV. saya ditegur, “Siapa itu?”. “Siap!, sersan Ara!”, kata saya. Kata yang jaga, “Ke sini sebentar!”. Langsung saya menghadap. Ternyata yang sedang jaga Bapak Letnan Atoy dan Letnan Kasad. Selanjutnya Letnan Atoy bertanya kepada saya, “Benar Kartosuwiryo teh dapat?”. Kata saya, “benar Pak. Kalau tidak percaya semua jimat-jimatnya ada di dalam ransel saya sambil ditunjukkan. Kata Pak Kasad, “Bohong bel, Itu mah sekretarisna!”.

TEGA PAK SUHANDA KA AING !

— TAMAT —


My personal note:

Di atas adalah versi digital dari catatan sekitar 10 lembar yang disusun oleh Pak Ara Suhara sendiri. Menyerupai versi asli di catatan beliau termasuk beberapa typo.

Tulisan ini murni sebagai referensi dari sudut pandang pak Ara Suhara. Tidak ada hubungannya dengan buku atau berusaha mengaitkan dengan artikel lain yang bercerita tentang event yang penangkapan SM Kartosuwiryo.

Dokumen asli (gambar dari pak Dandi)

Saya lampirkan juga masing-masing scan halaman berikut:

Terima kasih pak Dandi, anak dari Mayor (Har) Ara Suhara.


All rights reserved (c), Frownland Archive.

,

One response to “SEKILAS KISAH NYATA TERTANGKAPNYA SM. KARTOSUWIRYO oleh Ara Suhara”

Leave a comment