Yugoslavian Vest and Mittens, Given to RPKAD’s First Frefall Graduate

Relic yang sangat penting dalam sejarah freefall Indonesia terutama dari RPKAD (sekarang Kopassus) 🇮🇩

Di tahun 1962, tiga instruktur asal Yugoslavia—Mayor Stoyan Jovic, Letnan Mladen Milicevic, dan warga sipil Dobel Stanej—melatih para penerjun bebas angkatan pertama dari RPKAD di Batujajar. 

Para instruktur ini membawa perlengkapan mereka, termasuk parasut Soviet D-1 dan Yugoslavia PK T-3. Selain itu juga, mereka membawa rompi dan sarung tangan ini, serta seragam kamuflase parasut dari Yugoslavia untuk anggota RPKAD; akan tetapi, seragam tersebut tidak cocok untuk iklim Indonesia karena dirancang untuk cuaca dingin.

Salah satu peserta angkatan pertama tersebut adalah Pak Darwin Nasution, yang nantinya beliau juga melatih pasukan parasut Bangladesh di Batujajar. Pak Ken Conboy sempat mewawancarai Pak Darwin ketika proses penulisan buku Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces. Relic yang di foto adalah milik pak Darwin Nasution sendiri, dapat dari pak Ken.

Sedikit background, pelatihan ini untuk Detasemen Pasukan Chusus (DPC), detasemen yang dibentuk oleh Pak LB Moerdani setelah kepulangannya dari pelatihan Special Warfare di AS pada pertengahan 1961. DPC, yang dipengaruhi doktrin Pasukan Khusus AS yang bertujuan untuk “Winning hearts and minds”.

Untuk cerita lengkap terkait DPC dan pembentukannya, ada di buku pak Ken!

Foto tiga instruktur asal Yugoslavia yang melatih para penerjun bebas angkatan pertama dari RPKAD di Batujajar. Credit ke pak Ken Conboy.


English:

A very significant relic in the history of Indonesia’s free-fall parachuting, particularly from RPKAD (now Kopassus), the special forces.

In October 1962, three instructors from Yugoslavia—Major Stoyan Jovic, Lieutenant Mladen Milicevic, and civilian Dobel Stanej—trained the first generation of RPKAD free-fall parachutists in Batujajar. These instructors brought their equipment, including Soviet D-1 and Yugoslavian PK T-3 parachutes. Additionally, they also provided this vest and gloves, as well as Yugoslavian parachutist camouflage uniforms for RPKAD members. 

One of the trainees in this first circle was Pak Darwin Nasution, who later trained Bangladeshi paratroopers in Batujajar. Pak Ken Conboy interviewed Pak Darwin while writing his book Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces. The relics belonged to Pak Darwin Nasution himself, shared by Pak Ken.

For context, this training was part of the Detasemen Pasukan Chusus (DPC), a detachment formed by Pak LB Moerdani after his return from U.S. Special Warfare training in mid-1961. The DPC clearly influenced by U.S. Special Forces doctrine, aimed at “winning hearts and minds.”


All rights reserved (c), Frownland Archive.

, , ,

Leave a comment