Resimen Tjakrabirawa: A Brief History

Topik ini mungkin terkesan kontroversial untuk dibahas, apalagi sejarahnya yang dikaitkan dengan tragedi G30S. Tetapi lewat tulisan ini, saya ingin meluruskan satu hal bahwa tidak semua anggota Resimen Tjakrabirawa (Cakrabirawa) terlibat dalam peristiwa tersebut.

Dari sekitar 3.000 personel aktif Resimen Tjakrabirawa (Julius Pour, Benny: Tragedi Seorang Loyalis), yang terlibat dalam peristiwa G30S hanya sekitar satu kompi dan hanya dari Batalyon I KK Tjakrabirawa di bawah pimpinan Letkol Untung bin Syamsuri.

Table of Contents:

  1. Introduction
  2. Ketentuan Pakaian Seragam
  3. Struktur Organisasi Resimen
  4. Duaja/Panji Tjakrabirawa
  5. Foto-foto Tjakrabirawa
  6. CENKO dan G30S
  7. Aftermath
Cakrabirawa

1. Introduction

Resimen Tjakrabirawa sendiri merupakan satuan pengawal presiden yang dibentuk oleh Presiden Soekarno pada tanggal 6 Juni 1962 (bertepatan dengan hari ulang tahun beliau) berdasarkan Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi kesatuan khusus Resimen Tjakrabirawa ABRI No. 211/PLT. Tahun 1962.

No. 211/PLT Tahun 1962

Motto “Dirgayu Satyawira” yang berarti Prajurit setia yang menjaga keselamatan Kepala Negara.

Komandan resimen ini adalah Kolonel CPM. Moch. Saboer (Sabur) dengan Nrp. 12901. Dengan Tugas Pokok:

  • Dalam pelaksanaan dengan bertanggung-jawab kepada Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
  • Mengendalikan, memimpin, membina teknis dan taktis Kesatuan Resimen Tjakrabirawa dan menyelenggarakan administrasi pada seluruh kegiatan Resimen Tjakrabirawa.
Kolonel CPM. Moch. Sabur

Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa adalah Letkol CPM. Maulwi Saelan. Dengan tugas utama Membantu dan memberikan nasehat-nasehat kepada Komandan tenang hal-hal yang termasuk tugas pokok Komandan Resimen.

Foto di bawah sebagai referensi visual:

Letkol CPM. Maulwi Saelan

2. Ketentuan Pakaian Seragam

Berdasarkan Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI No. 262/Plt. Tahun 1962 tentang ketentuan:

Dapat disimpulkan bahwa Resimen Tjakrabirawa:

  • Menggunakan baret merah tua, dan
  • Pada baret tersebut terpasang flash baret lambang Tjakra berwarna kuning emas, dengan dasar kulit hitam serta pelesir (garis pinggir) berwarna kuning di sisi atas dan bawah. Flash ini akan dikenakan di sisi kanan baret.
  • Para anggota juga mengenakan badge Resimen Tjakrabirawa yang disematkan di lengan baju sebelah kiri.
  • Badge dari tiap Angkatan Bersenjata tetap digunakan pada lengan baju sebelah kanan.
Relic koleksi saya, badge Tjakrabirawa untuk lengan kiri seragam

3. Struktur Organisasi Resimen

Bagan Organisasi dari Majalah Tjakrabirawa Vol. 5

Secara garis besar, resimen Tjakrabirawa ini terdiri dari:

I. Detasemen Pengamanan Chusus (DPC)
Dipimpin oleh Mayor CPM Djoko Sujatno.

Mayor CPM Djoko Sujatno

Detasemen Pengamanan Chusus (D.P.C.) adalah unsur pelaksana yang harus melakukan cara-cara penyelamatan pribadi Kepala Negara beserta Keluarganya secara tidak langsung, cara-cara penyelamatan area/ wilayah dengan segala isinya dimana Kepala Negara beserta Keluarganya berada dan yang dipergunakan oleh Kepala Negara beserta Keluarganya, sesuai ketentuan-ketentuan prinsip dan pedoman pengamanan yang sudah direncanakan oleh Bagian I dan Bagian II (Selanjutnya penjelasan bagian I/II ini ada di Majalah Tjakrabirawa Vol. 5)

II. Detasemen Kawal Pribadi (DKP).
Atau berdasarkan penulisan di majalah, Detasemen Polisi Pengawal Pribadi Presiden yang dipimpin oleh Kompol/Brimob Mangil Martowidjojo.

Kompol/Brimob Mangil Martowidjojo.

Detasemen Kawal Pribadi (D.K.P.) adalah unsur pelaksana yang harus melaksanakan penyelamatan Kepala Negara beserta Keluarganya secara langsung dari jarak yang sangat dekat.

III. Dan juga, empat (4) Batalyon Kawal Kehormatan (KK).
Masing-masing berasal dari unsur matra yang berbeda-beda. Dengan tugas pokok:

  • Kesatuan Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa bertugas untuk melakukan penjagaan-penjagaan di dalam arti yang luas yang berhubungan dengan pengamanan Kepala Negara beserta Keluarganya
  • Melakukan tugas sebagai kesatuan bantuan atau cadangan dalam hubungan pengamanan terhadap Kepala Negara beserta Keluarganya.

Ke-4 Batalyon KK tersebut adalah:

IIIA. Batalyon I KK – dari Angkatan Darat.
Dipimpin Mayor Inf Ali Ebram. Pasukannya diambil dari salah satu kompi Yon 454 “Banteng Raider II” dari Kodam Diponegoro.

Mayor Inf Ali Ebram
Kompi “Banteng Raiders”

Setelah itu pada tanggal 1 Januari 1965, Yon I KK ini dipimpin oleh Mayor Untung bin Syamsuri, NRP 11284.

Mayor Untung bin Syamsuri, 1963

IIIB. Batalyon II KK – dari Korps Komando (KKO) AL.
Bergabung sejak 23 Februari 1963, dipimpin oleh Mayor KKO Johannes Saminoe (Pangkat terakhir Brigjen KKO AL). Untuk penjelasan lengkap tentang Yon II KK ini akan saya tulis terpisah.

Mayor KKO J. Saminu

IIIC. Batalyon III KK – dari Pasukan Gerak Cepat (PGT) AU.
Bergabung sejak Mei 1963, dipimpin oleh Mayor Udara PGT Soetoro.

Mayor Udara PGT Soetoro

IIID. Batalyon IV KK – dari Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian.
Bergabung sejak Mei 1963, dipimpin oleh Kompol I/Brimob M. Satoto.

Kompol I/Brimob M. Satoto.

4. Duaja/Panji Tjakrabirawa

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 154 Tahun 1963, menetapkan:

  1. Menganugerahkan kepada Resimen Tjakrabirawa sebuah DUAJA (Panji) seperti yang diuraikan dalam lampiran surat keputusan ini, sebagai lambang persatuan, kesatuan dan kejayaan dari Resimen Tjakrabirawa yang bertugas khusus menyelenggarakan pengamanan Presiden atau Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia beserta keluarganya.
  2. Cara dan waktu penghormatan dengan dan terhadap Duaja itu cara merawatnya diatur dalam peraturan tentang penghormatan Tentara.

Keterangan foto di atas: “Detik-detik bersedjarah, sewaktu P.J.M. Presiden Soekarno menganugerahkan Duadja Resimen Tjakrabirawa kepada Kolonel/C.P.M. Moch. Sabur, Komandan Resimen Tjakrabirawa” Sumber dari Majalah Tjakrabirawa Vol. 7.

Kesimpulan Lambang Duaja Resimen Tjakrabirawa:

Sebagai suatu kesatuan, Resimen Tjakrabirawa adalah suatu kesatuan yang khusus dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1962 yang bertugas menjaga keselamatan Kepala Negara beserta keluarganya, yang pada hakekatnya mengemban kepercayaan rakyat yang berarti pula menjaga keselamatan Negara dan Bangsa dengan dasar perjuangan:

  1. Setiap anggota Angkatan Bersenjata yang ditugaskan dalam Resimen Tjakrabirawa harus berjiwa: DIRGAYU SATYAWIRA, artinya harus benar-benar menjadi Prajurit terpercaya dan setia yang mendjaga keselamatan Kepala Negara, yang pada hakekatnya sama artinya dengan mengabdi kepada Negara dan Bangsa.
  2. Dalam mengabdi pada tugasnya harus dengan kebulatan tekad dan penuh keyakinan serta bersandarkan pada kesadaran dan keikhlasan yang bersumber pada kesucian.
    Dengan demikian di Resimen Tjakrabirawa hanya ada tempat bagi prajurit jang benar-benar terpilih serta yakin, sadar dan ikhlas dalam mengabdi pada tugasnya, yang akan menjadi kebanggaan dan putra utama bagi tiap Angkatan.
  3. Dalam tiap melaksanakan tugas harus selalu berpedoman pada Saloka yang berbunyi:
    BHAKTI RASA PURA NEGARA”
    dan berarti bahwa kesadaran rasa bagi Prajurit dalam mendarmakan kebaktiannya, niscaya akan dapat dibangun Dhirgayu bagi Negara dan Bangsanya.

5. Foto-foto Tjakrabirawa

Di bagian ini, saya tampilkan beberapa foto hasil scan dari Majalah Tjakrabirawa yang terbit di era 1960-an—arsip langka yang sangat jarang diekspos sebelumnya. Materi ini memberikan gambaran visual yang lebih konkret tentang pemakaian seragam, aktivitas, serta profil personel Resimen Tjakrabirawa pada masa itu.


6. CENKO dan G30S

Latar Belakang

Tentang pengesahan DEKRIT NO. I dan pembentukan Dewan Revolusi
Indonesia, singkatnya G30S adalah sebuah kudeta militer yang dilakukan oleh sekelompok perwira militer yang menamakan gerakan ini “Gerakan 30 September”.

Mereka menculik dan membunuh enam jenderal TNI Angkatan Darat dengan alasan mengklaim ingin menyelamatkan Presiden Soekarno dari kudeta Dewan Jenderal yang menurut mereka ingin menggulingkan presiden.

Pengumpulan Pasukan

*Tulisan di bawah ini diambil dari “Berita Atjara dari Persidangan Umum Landjutan Ke-XI (Pembatjaan Putusan oleh Hakim Ketua)” dari buku Gerakan 30 September di hadapan Mahmilub: Perkara Untung.

Dibentuk Dewan Central Komando (CENKO) yang membawahi Pasukan Pasopati, Pasukan Bima Sakti dan Pasukan Pringgodani. Dewan CENKO sendiri dipimpin oleh Letkol Untung bin Syamsuri dengan beberapa anggota lainnya yaitu:

  • Kolonel A. Latief
    Kolonel Inf. Nrp. 10625, jabatan ex. Komandan Brigif I DAM V/Jaya. Bertanggung-jawab soal pasukan dan territorial.
  • Mayor Udara Sujono
    Mayor Udara Nrp. 470524 dan jawaban ex. Komandan Resimen Pasukan Pengawal Pangkalan (PPP)
  • Sjam Kamaruzaman (aka Sjam), Supono Marsudidjojo (aka Pono) yang bertanggung-jawab untuk urusan politik dan pengerahan massa sedang.

Hari “H” ditentukan pada tanggal 30 September 1965, Jam “J” ditentukan pada jam 04.00 dengan nama Gerakan 30 September.


I. Pasukan Pasopati

Pasukan penculik yang dipimpin oleh Lettu Dul Arief (Doel Arif) yang bertugas pokok melakukan penangkapan, penculikan dan pembunuhan terhadap para “Dewan Djenderal”, yang memakan korban:

  • Letnan Jenderal Achmad Yani
  • Mayor Jenderal M.T. Haryono
  • Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan
  • Mayor Jenderal R. Suprapto
  • Mayor Jenderal S. Parman
  • Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
  • Lettu Pierre Tendean (ajudan Jenderal Nasution, tapi gugur karena tertangkap saat G30S salah sasaran)

Hasil gerakan Pasopati tersebut harus diserahkan kepada pasukan Pringgodani yang berbasis di Lubang Buaya.

Jumlah kekuatan Pasukan Pasopati yang terlibat:

  • 1 (satu) kompi Yon I K.K. Tjakrabirawa,
  • 1 (satu) kompi dari Yon 454 “Banteng Raiders II” pimpinan Letda Toni Subagio
  • 1 (satu) kompi dari Yon 530/Para Brigade III Kodam Brawijaya
  • 2 (dua) peleton dari Brigif I Kodam V/Jaya

Berdasarkan buku “Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Kodam V/Jaya”, berikut pembagian pasukan tersebut ke dalam 7 kelompok:

Kelompok 1 – Nurdin
Pasukan yang terdiri dari 1 Regu KK Tjakrabirawa, 1 Ton Yon 530, 1 Ton Yon 454, 1 Ton Yon PGT, 1 Ton Sukwan, dipimpin oleh Pelda Jahurup dari Men Tjakrabirawa yang bertugas menculik Jenderal Nasution.

Kelompok 2 – Yansen
Pasukan yang bertugas menculik Letnan Jenderal A. Yani, terdiri dari 1 Ton Brigif 1/Jaya, 1 Regu Tjakrabirawa, 1 Ton Yon 530, 1 Ton Yon 454, 1 Regu PGT, 2 Regu Sukarelawan Kita (SUKTA), di bawah pimpinan Peltu Mukijan dari Brigif I/Jaya.

Screenshot

Kelompok 3
Pasukan yang bertugas untuk menculik Mayor Jenderal Soeprapto, terdiri dari 1 Ton KK Tjakrabirawa, dimana Peleton ini dibagi dua yaitu:
– 1 regu pimpinan Serka Sulaeman.
– 1 regu pimpinan Serda Sukiman.

Kelompok 4
Pasukan yang bertugas untuk menculik Mayor Jenderal S. Parman di bawah pimpinan Serma Satar, terdiri atas 1 Regu Men Tjakrabirawa, 1 Ton Yon 530 di bawah pimpinan Serma Paat.

Kelompok 5
Pasukan yang bertugas untuk menculik Mayor Jenderal MT Haryono di bawah pimpinan Serka Bungkus, terdiri dari 1 Ton Tjakrabirawa yang dibagi menjadi tiga Regu yaitu:
– Regu I di bawah pimpinan Sertu Arlan,
– Regu II dipimpin oleh Serda Tjarmin dan
– Regu III dipimpin oleh Serda Syahman.

Kelompok 6 – Toyota
Pasukan yang bertugas untuk menculik Brigadir Jenderal Sutoyo, terdiri dari 1 Ton Cakrabirawa dibawah pimpinan Serma Surono, yang juga terbagi atas tiga regu yaitu:
– Regu I di bawah pimpinan Serda Sudibya,
– Regu II di bawah pimpinan Serda Ngatiyo dan,
– Regu III dipimpin oleh Kopda Dasuki.

Kelompok 7 – Singer
Pasukan yang bergerak untuk melakukan penculikan terhadap Brigadir Jenderal D. I. Pandjaitan , terdiri dari: 1 Regu Brigif 1/Jaya, 1 regu Yon 454 Diponegoro.

Selain itu, berdasarkan buku Elite karya Pak Ken Conboy:

“Not all went according to script, however. For one thing, most of the 530 Airborne Battalion balked. For another, most of the promised PGT battalion was deployed outside of Jakarta. This left the conspirators with support from only elements of the 454 Airborne Battalion, the 1 Infantry Brigade, and Tjakrabirawa’s Battalion I. Tjakrabirawa troops, in fact, were among all of the teams targeted against the seven generals.”

Dapat disimpulkan bahwa memang kompi dari pasukan Yon I KK Tjakrabirawa terlibat dalam semua misi penangkapan terhadap ketujuh jenderal.


II. Pasukan Bima Sakti

Di bawah pimpinan Kapten Suradi dengan tugas pokok penguasaan objek vital dan penguasaan territoral Jakarta seperti Radio Republik Indonesia (R.R.I.) Jakarta, Kantor Telepon dan Telekomunikasi (POSTEL),

Pasukan Bima Sakti yang dilibatkan:
– Kurang dari satu Batalyon dari Yon 530
– Kurang dari satu Batalyon dari Yon 454 (Menurut kesaksian dari Kuntjoro, ada sekitar 6 kompi yang dipimpin oleh Dan Yon 454 Soekirno, diwakili oleh Kuntjoro)


III. Pasukan Pringgodani (Gatotkatja)

Di bawah pimpinan ex. Mayor Udara Sujono dan berkekuatan satu batalyon dari PGT yang melakukan pengamanan posko di Lubang Buaya dan Bandara Halim.

Sedangkan Gatotkatja dipimpin oleh wakil dari Mayor Udara Sujono yaitu Mayor Gatot Sukresno Nrp. 470583 yang terdiri dari para siswa campuran dari Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia dan beberapa individual, yang semuanya berjumlah kurang lebih 1500 orang dengan tugas-tugas jika ada perintah dari Mayor Udara Sujono (Pasukan Pringgodani)

Konklusi: dari seluruh struktur Resimen Tjakrabirawa yang berjumlah sekitar 3.000 personel, hanya satu kompi dari Yon I Kawal Kehormatan yang terbukti terlibat dalam peristiwa G30S. Fakta ini penting untuk dicatat agar tidak terjadi generalisasi yang keliru terhadap keseluruhan resimen Tjakrabirawa—terutama bagi satuan-satuan lain seperti Yon II (KKO), Yon III (PGT), dan Yon IV (Brimob) yang sama sekali tidak terlibat dalam aksi tersebut.


7. Aftermath

Setelah kejadian G30S/PKI tersebut, Yon I KK pastinya dibubarkan dari Tjakrabirawa. Letkol Untung bin Syamsuri diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) dan dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada bulan September 1967.

Selain itu, ada topik yang jarang dibahas: sebenarnya Pimpinan Tjakrabirawa yang lain berupaya keras untuk menjauhkan diri dari tindakan Letkol Untung yang sudah mencoreng nama resimen tersebut. Contohnya saja sebagai langkah simbolik, Batalyon II, III, dan IV KK kemudian diganti namanya menjadi Batalyon B, C, dan D.

Relic Yon B Tjakrabirawa, KKO

Bahkan, dalam edisi Januari 1966 majalah bulanan Tjakrabirawa sempat memuji Jenderal Soeharto. Namun, upaya-upaya ini tidak cukup untuk meredakan kecurigaan dan kemarahan dari pihak Angkatan Darat.

Majalah Tjakrabirawa Edisi Januari 1966

Hingga akhirnya, pada 22 Maret 1966, Resimen Tjakrabirawa dibubarkan secara sepihak. Tak lama kemudian, batalyon kehormatan dari KKO, PGT, dan Brimob dikembalikan ke kesatuan induk masing-masing.

Untuk para ex-pemimpin Tjakrabirawa, berdasarkan tulisan dari Pak Jani Sari:

  • Ka Staf Letkol CPM Maulwi Saelan, selepas ditahan kemudian diajak Buya Hamka menjadi pengurus sekolah-sekolah Al Azhar.
  • Dan Yon KK II Mayor KKO Saminu, Jon II KK kembali ke kesatuan asal KKO AL dijadikan Yon 4 PARA AMPIBI KKO AL. Mayor Saminoe menjadi komandannya sejak 10 September 1966.
  • Dan Yon KK III Mayor Udara PGT Soetoro, beliau lalu menjadi Panglima Kopasgat 1968-1973, dan pensiun di pangkat Kolonel. Setelah itu menjadi anggota DPR, dan juga ada terbit buku biografi tentang beliau yang berjudul “Soetoro: Panglima yang Nrimo dan Bersahaja”
  • Dan DKP Ajun Kompol Brimob Mangil kemudian ditahan tanpa pengadilan selama 3 tahun, lalu pada tahun 1971 dipanggil bertugas kembali sekaligus diberhentikan secara hormat.

Referensi

Semua informasi di atas ditulis dari berbagai referensi sebagai berikut:

  • Ken Conboy – Elite: The Special Forces of Indonesia 1950-2008.
  • Majalah Tjakrabirawa Volume 1, 2, 4, 5, 7 dan 8.
  • Buku Gerakan 30 September di hadapan Mahmilub: Perkara Untung.
  • Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Kodam V/Jaya.

Dan juga bantuan kolektor & pemerhati sejarah militer Indonesia:

  • Pak Jani Sari yang sudah membantu saya merapikan halaman ini dan bersedia meminjamkan Majalah Tjakrabirawa dari koleksi beliau untuk kepentingan dokumentasi dan penulisan artikel ini.
  • Pak Priyono (aka Priyono Bitles Combat), yang telah memberikan informasi mengenai CENKO dan tata cara penjelasan peristiwa G30S, serta turut memberikan masukan dalam proses peninjauan dan penyempurnaan penulisan artikel ini.

Semoga apa yang ditulis di sini bisa bermanfaat. Jika ada yang ingin mengutip, menulis ulang, atau menjadikannya referensi, harap cantumkan sumbernya. Terima kasih


All rights reserved (c), Frownland Archive.

,

One response to “Resimen Tjakrabirawa: A Brief History”

Leave a comment