Six Years, Two Podcasts: From Patterns to History

  1. SIX YEAR APART
  2. I STOPPED COLLECTING PATTERNS.
  3. I STARTED COLLECTING HISTORY
  4. ERA DOESN’T ALWAYS MEAN HISTORY
  5. TEN RELICS, TEN STORIES
  6. A NOTE ON PAK KEN CONBOY

SIX YEAR APART

Desember 2020 – Agustus 2026.

Hampir enam tahun terpisah, dua foto memperlihatkan saya duduk di depan kamera dan membicarakan hal yang sama: militaria.

Desember 2020 menjadi salah satu titik awal ketika saya mulai banyak membicarakan dunia collecting saya ke publik. Saat itu, saya diajak menjadi narasumber Darahkubiru untuk episode Vintage Life with Frownland Supply. Dunia collecting saya masih banyak berkutat pada pattern, model, dan era: tentang bagaimana menemukan sebuah item yang langka, mengenali modelnya, dan mencari tahu dari periode mana piece tersebut berasal.

Enam tahun kemudian, saya kembali duduk di depan kamera, kali ini untuk Episode 13 Sevensky Talks. Kalau dua foto ini dilihat berdampingan, perbedaannya sebenarnya bukan pada koleksinya, tetapi pada cara saya melihat dunia militaria.

Enam tahun lalu, collecting saya banyak berkutat pada pattern. Pattern mana yang lebih langka, mana yang pertama kali digunakan, mana yang produksinya lebih awal, atau justru mana yang semakin tua semakin sulit ditemukan. Kelangkaan dan usia sebuah piece menjadi salah satu hal yang sangat menentukan ketertarikan saya terhadap sebuah item.

Sekarang, cara pandang itu sudah berbalik.

Saya tidak lagi hanya melihat sebuah piece dari pattern, usia, atau kelangkaannya, tetapi mulai melihat apa yang berada di baliknya. Siapa yang pernah menggunakannya, di mana piece tersebut berada, bagaimana perjalanan benda itu sampai ke tangan saya, dan apa yang bisa diceritakan oleh sebuah relic tentang sejarahnya.


I STOPPED COLLECTING PATTERNS.

Pada periode awal collecting, saya banyak mengejar patterns, model, dan rarity.

Saya pernah mengumpulkan beberapa relic militer Amerika yang sangat langka, seperti:

i stopped colleting eras and pattern for militaria Saya pribadi menghindari menempelkan ulang patch, mengganti insignia, atau mencoba membentuk kembali sebuah seragam menjadi konfigurasi yang dianggap lebih menarik (baca: Faking Uniform or Put Together Uniform ) 

Maka dari itu  saya memilih untuk mengubah cara saya mencari dan memahami arti kata "relic".

Beberapa di antaranya bukan barang murah dan bahkan ada yang secara rarity sulit ditemukan.

Namun, seiring waktu, saya mulai menyadari ada sesuatu yang mengganjal.

Beberapa dari seragam tersebut hanya menyisakan patch US Army, atau berasal dari unit yang secara personal tidak terlalu saya cari. Secara objek, seragamnya memang original dan langka. Tetapi secara konteks, saya merasa seragam tersebut “TIDAK BERTUAN”.

Bukan berarti seragam itu tidak memiliki sejarah. Justru sebalikny, kemungkinan besar seragam tersebut pernah digunakan oleh seseorang, di suatu tempat, pada suatu periode. Tetapi identitas pemakainya sudah hilang, dan yang tersisa bagi saya hanyalah sebuah seragam dengan patch yang menempel di atasnya.

Saya pribadi menghindari menempelkan ulang patch, mengganti insignia, atau mencoba membentuk kembali sebuah seragam menjadi konfigurasi yang dianggap lebih menarik (baca: Faking Uniform or Put Together Uniform )

Maka dari itu saya memilih untuk mengubah cara saya mencari dan memahami arti kata “relic”.

Bukan lagi sekadar mencari pattern yang langka.
Bukan sekadar mencari seragam yang tua.

Tetapi mencari sebuah piece yang masih membawa identitasnya sendiri seperti patch, insignia, konfigurasi, dan, kalau memungkinkan, cerita tentang siapa yang pernah memilikinya.

Saya mulai mencari all-original relics.


I STARTED COLLECTING HISTORY

Setelah mulai menghindari seragam yang sudah kehilangan identitasnya, saya perlahan mulai melihat sebuah relic dengan cara yang berbeda.

Dulu, pertanyaan pertama saya ketika melihat sebuah piece adalah:
“Pattern apa ini?”
“Seberapa langka pattern ini?”
“Dari era apa? WWII kah? Vietnam kah?”

Sekarang, pertanyaannya berubah menjadi:
“Siapa yang menggunakan ini?”
“Di mana piece ini pernah berada?”
“Apakah jika era Vietnam itu beneran pernah menyentuh tanah Vietnam dan di periode perang?

Dikarenakan saya paham, ERA tidak sama dengan WARTIME PERIOD. Seragam yang dibuat di tahun 67, bukan berarti dipakai di wartime era 1967.

and started collecting history sebaliknya, sebuah piece yang sangat langka belum tentu menjadi sesuatu yang paling berarti bagi saya apabila tidak ada lagi konteks yang bisa menghubungkannya dengan sejarah.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa nilai sebuah relic tidak selalu berada pada kelangkaan objeknya, tetapi juga pada sejarah yang dibawanya.

Saya mulai mencari provenance.

Sebuah seragam yang secara pattern mungkin tidak terlalu langka bisa menjadi jauh lebih menarik ketika kita mengetahui siapa pemakainya, unitnya, tempat ia bertugas, atau cerita di balik bagaimana relic tersebut disimpan selama puluhan tahun.

Sebaliknya, sebuah piece yang sangat langka belum tentu menjadi sesuatu yang paling berarti bagi saya apabila tidak ada lagi konteks yang bisa menghubungkannya dengan sejarah.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa nilai sebuah relic tidak selalu berada pada kelangkaan objeknya, tetapi juga pada sejarah yang dibawanya.

Saya mulai mencari PROVENANCE.

Bukan hanya apakah sebuah seragam original, tetapi apakah konfigurasi yang ada di dalamnya masih utuh. Apakah patch-nya masih berada di tempatnya. Apakah insignia dan marking-nya sesuai. Apakah ada foto, dokumen, atau cerita yang bisa menghubungkan piece tersebut dengan pemakainya.

Dan yang paling menarik bagi saya sekarang adalah ketika sebuah benda bisa membawa kita kembali kepada sebuah peristiwa, unit, atau bahkan individu tertentu.

Pada akhirnya, saya tidak lagi sekadar mengoleksi benda.

Saya mengoleksi history dan cerita yang melekat pada benda tersebut.

Karena bagi saya, sebuah relic yang memiliki sejarah untuk diceritakan akan selalu lebih menarik daripada sebuah relic yang hanya memiliki label “rare.”


ERA DOESN’T ALWAYS MEAN HISTORY

Case study: M65 Field Jacket Vietnam Era

M65 Field Jacket atau M-1965 adalah salah satu military jacket yang paling identik dengan era Perang Vietnam. Karena itu, dulu saya akan melihat sebuah M65 dengan cara yang cukup sederhana: semakin tua produksinya, semakin menarik; semakin awal tahunnya, semakin langka.

Tetapi kemudian saya mulai membedakan dua hal yang ternyata sangat berbeda:

Vietnam-era dan Vietnam-used.

Real Vietnam era period

Semakin saya mempelajari sejarah pemakaiannya, saya justru menemukan FAKTA bahwa M65 itu jarang digunakan di Vietnam selama periode perang.

Jika digunakan, pemakaiannya lebih umum ditemukan di wilayah DMZ dan daerah-daerah highland, khususnya di I dan II Corps Tactical Zones (CTZ) [Sumber: usmilitariaforum / USMF]

Shelby Stanton dalam U.S. Army Uniforms of the Vietnam War juga menjelaskan kondisi tersebut:

“In Highland, high altitudes and strong winds create an abnormally high wind-chill factor. While field jackets are satisfactory for rear base camp areas, they are too bulky for use in the forward areas and impede troop agility.”

Karena itu, M65 justru jauh lebih umum ditemukan dalam penggunaan pasca-Perang [POST-WAR] dan di Amerika Serikat. Dan di sinilah istilah Vietnam-era menjadi penting untuk dibedakan dari Vietnam-used.

Melalui berbagai photographic evidence, penggunaan M-1951 atau M51 sebagai field jacket di Vietnam justru lebih banyak terlihat di era Perang.

Sebuah M65 yang diproduksi pada era Vietnam tidak otomatis berarti pernah digunakan di Vietnam. Ia bisa saja diproduksi pada periode yang sama, tetapi kemudian digunakan di tempat lain, disimpan, atau bahkan baru digunakan bertahun-tahun setelahnya.

Bagi saya sekarang, perbedaan itu sangat penting.

REAL M65 Period Worn M65 Field Jacket

Di koleksi saya ini, yang membuatnya menarik bukan hanya usia atau contract date-nya, tetapi jejak yang masih tertinggal pada jacket tersebut. Mulai dari theater-made atau Vietnamese-made machine embroidered patches, konfigurasi SSI, hingga detail insignia yang masih melekat.

Hal-hal seperti ini dapat menjadi petunjuk penting dalam menilai apakah sebuah jacket benar-benar memiliki hubungan dengan Vietnam wartime period. Untuk detailnya silahkan ke artikel: M65 Field Jacket: SP5 Green, 101st Airborne Div.

Dan sejak saat itu, saya mulai menyadari bahwa sebuah piece tidak harus menjadi yang paling tua atau pattern paling langka untuk menjadi yang paling menarik. Bagi saya, inilah contoh sederhana bagaimana cara saya melihat sebuah relic sekarang.

Bukan hanya kapan benda itu dibuat, tetapi sejarah apa yang masih bisa kita baca darinya.


TEN RELICS, TEN STORIES

Pertemuan saya dengan Sevensky sendiri bermula dari acara Unfound IDN “BEYOND FASHION: ARCHIVING HISTORY THROUGH OLD CLOTHING”, ketika saya lebih dulu diajak untuk berbicara mengenai collecting.

Pada saat itu, saya juga sudah mendedikasikan seluruh collecting saya kepada Indonesian Militaria atau semua relic dari Indonesia.

Setelah sebelumnya cukup lama mengoleksi berbagai militaria dari berbagai negara dan era, keputusan tersebut menjadi salah satu perubahan terbesar dalam perjalanan collecting saya. Mungkin, justru fokus inilah yang menjadi salah satu hal menarik sehingga saya diajak untuk berbicara dalam acara tersebut.

Dari sana, pembicaraan kemudian berlanjut hingga akhirnya saya diundang untuk menjadi bagian dari Sevensky Talks Episode 13.

Untuk episode tersebut, saya membawa sepuluh relic dari koleksi saya.

Bukan karena sepuluh piece tersebut adalah yang paling mahal atau paling langka yang saya miliki, tetapi karena masing-masing memiliki cerita dan konteks yang berbeda.

101st Airborne Divison (attributed) U.S. Army M1965 Field Jacket
5th Pattern Jungle Jacket (Charles D.Thompson) MACV SOG
Thai Tailored Shirt (Lt, Elmer F. Bollenberg Jr.) (VO-67)
Loreng Jaya Sakti Brushstroke (Malari Era)
Locally Made M65 Jacket Wine Leaf Kostrad “Daun Anggur”
“Darah Mengalir” Camouflage Shirt belonged to J. Suhban
Kopassus Coverall belonged to Sudjardi
Brimob Batalyon 32 Jacket [JON-32-PARA]
Kopasgat “Pecah Beling” Camouflage
Loreng Macan Tutul KKO belonged to Soelomo [Eks- Tjakrabirawa]Patch Tjakrabirawa atau Cakrabirawa

Sepuluh relic, dengan sepuluh cerita yang berbeda.

Di sinilah sebuah collection menjadi lebih dari sekadar kumpulan benda. Setiap piece memiliki konteksnya sendiri, mulai dari siapa yang menggunakannya, unitnya, periode penggunaannya, hingga bagaimana relic tersebut akhirnya sampai ke koleksi saya.

Pembicaraan di Sevensky Talks akhirnya tidak hanya membahas tentang apa yang saya koleksi, tetapi juga tentang mengapa saya mengoleksinya, bagaimana cara pandang saya terhadap sebuah relic berubah, dan bagaimana collecting bagi saya sekarang semakin dekat dengan proses memahami sejarah.

Ada juga yang dibahas tentang fakes di dunia militaria ini.


A NOTE ON PAK KEN CONBOY

Ada satu nama yang juga sempat saya singgung dalam percakapan di Sevensky Talks: Pak Ken Conboy.

Tidak perlu diperkenalkan lagi, beliau sudah membuat BLUE PRINT dalam konteks Indonesian militaria. Salah satu buku yang sempat saya singgung dalam percakapan tersebut adalah Elite: The Special Forces of Indonesia, 1950–2008, karya beliau

ELITE by Ken Conboy


Buku yang diterbitkan pada 2008 tersebut tidak hanya membahas sejarah satuan-satuan khusus Indonesia, tetapi juga mendokumentasikan uniform, insignia, camouflage, dan berbagai detail yang kemudian menjadi referensi penting bagi saya sebagai collector.

Beruntungnya saya, orang yang dulu saya kenal hanya melalui buku yang menjadi salah satu referensi collecting saya, kemudian menjadi seseorang yang bisa saya ajak berdiskusi secara langsung mengenai relic, provenance, dan sejarah di baliknya. Saya juga dipercayakan untuk merawat berbagai relic beliau yang saya tulis di sini juga.

Bagi saya, ini salah satu bagian yang sangat personal dari perjalanan collecting.


Dan mungkin, tanpa saya sadari, perjalanan itu juga yang akhirnya mengubah cara saya melihat collecting.

Dari mencari benda yang ada di dalam buku, menjadi mencari cerita yang ada di balik benda tersebut.

ZHEN REZKY

© Arsip Militer by Frownland Archive. All rights reserved.

,

Leave a comment