Dalam Radar: Unfound.idn

·

Featured and invited to speak at Unfound Fest since May 2026.

Unfound Fest Vol. 1 adalah festival vintage, antiques, dan collectibles yang digelar gratis pada tanggal 29–31 Mei 2026 di TEMA Indonesia, Jakarta Barat, oleh Unfound.idn. Bagi saya, festival ini punya arti yang berbeda dari acara lain. Di sinilah untuk pertama kalinya saya mengiyakan ajakan untuk memamerkan koleksi saya secara terbuka kepada publik.

cover zhen rezky of frownland archive and arsip militer jadi pembicara di unfound.idn

Diajak Lingga dan Kevin

Ceritanya dimulai dari sebuah ajakan. Lingga dan Kevin menghubungi dan mengajak untuk menjadi pembicara di Unfound.idn. Selama ini koleksi dan riset saya lebih banyak hadir lewat layar, berupa foto scan, artikel, dan post di Instagram atau pun website.

Melihat seragam, patch, dan foto-foto arsipnya langsung di depan mata adalah hal yang berbeda, dan seperti yang tertulis di poster pengumuman Unfound, koleksi-koleksi ini jarang sekali diperlihatkan ke publik.

Jawabannya kali ini: iya. Ini pertama kalinya saya menerima tawaran untuk showcase, dan Unfound.idn menjadi tempat pertama yang mendapatkannya.

Showcase pertama: arsip yang jarang terlihat

Di booth Unfound Fest, saya menampilkan 10 koleksi pilihan dari yang saya bangun selama bertahun-tahun: seragam militer, berbagai pola kamuflase, foto-foto arsip, dan relic lain yang memiliki nilai sejarah. Semuanya dikumpulkan dengan pendekatan riset yang sama seperti yang selalu saya pegang, yaitu melihat jejak dan riwayat sebuah barang, bukan sekadar umurnya.

Lihat 10 koleksi yang saya bawa

1. U.S. Army 2nd Pattern HBT Shirt (P43)

Attributed to Woodhead of 16th IR, 1st ID
Circa 1946 to 1950s (Post-WWII)
Kemeja HBT P43 milik prajurit “Woodhead” ini merekam fase awal okupasi Sekutu di Jerman pasca-WWII. Seragam ini merupakan versi “spesial” dengan field-modified bagian gas flap yang dipotong oleh pemiliknya demi kenyamanan di lapangan. Nilai historis tertingginya terletak pada seluruh atributnya (insignia Big Red One, name tag, dan pocket patch) yang merupakan theater-made buatan lokal Jerman dengan teknik tenun BeVo khas Jerman era WWII.

→ Baca selengkapnya di Arsip Militer

2. Brimob Batalyon 32 Jacket

Circa 1967 to 1969
Jaket brushstroke unik ini merupakan seragam resmi Batalyon Parasut 32 (Jon-32-Para) Brimob, yang berumur pendek hanya dari 1967–1969. Unit ini dibentuk pasca pembubaran Resimen Tjakrabirawa pada 1966, eks-batalyonnya kembali ke Brimob (namun terpisah dari Menpor) dan menamai diri mereka YON 32.

Karena ukuran unit yang sangat kecil dan masa aktif yang hanya dua tahun sebelum akhirnya dibubarkan, kamuflase ini menjadi salah satu yang paling langka dalam sejarah Indonesia; hanya 3 spesimen yang diketahui selamat atau surviving hingga hari ini, dan ini adalah salah satunya.

→ Baca selengkapnya di Arsip Militer

3. Vietnam War Tiger Stripe Jacket

Advisor’s Classic Pattern, Circa 1968
Attributed to a Veteran of the 173rd Airborne Brigade
Jaket tiger stripe legendaris ini yang sering disebut sebagai “Advisor’s Classic” atau “Purple” pattern era Perang Vietnam. Merupakan sister pattern dari varian Gold, pattern ini sangat bernilai tinggi secara market value dan banyak diadopsi oleh unit CIDG, ARVN Rangers, serta USSF. Didapatkan langsung dari seorang veteran unit lintas udara elit Amerika Serikat, 173rd Airborne Brigade.

4. U.S. Army OG-107 Type III Utility Shirt

Attributed to R. Soedarwoko – Kostrad TNI AD
Circa Mid to Late 1970s
Kemeja US OG-107 Type III milik R. Soedarwoko dari KOSTRAD ini merupakan sisa surplus militer Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia pada era melimpahnya suplai perlengkapan AS, termasuk kamuflase Daun Anggur. Meskipun seluruh patch asli telah dilepas (menyisakan name tape), bukti autentik penggunaannya di KOSTRAD terekam jelas pada period modification berupa penambahan kancing snap kecil di bawah kancing pertama.

Temuan detail lapangan ini dipublikasikan untuk pertama kalinya di sini, dikonfirmasi melalui foto periode 1970s dari Mayor Jenderal (Purn) Syamsul Mappareppadi akhir 1970-an yang mengenakan seragam serupa.

→ Baca selengkapnya di Arsip Militer

5. Loreng Macan Tutul KKO

Attributed to Mayor (Purn) Soelomo Sastrodimedjo
Locally Made, Unknown Maker, Circa 1965 to 1975
Arsip seragam loreng Macan Tutul KKO buatan lokal ini milik Mayor (Purn) Soelomo Sastrodimedjo. Beliau adalah sosok perwira penting yang merupakan alumni SEDASPAKO angkatan pertama, serta pernah mengemban tugas sebagai Danton & Danki di Batalyon II Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa sebelum akhirnya menjabat sebagai Dankima di Pangkalan KKO-AL Jakarta.

→ Baca selengkapnya di Arsip Militer

6. KOPASGAT “Jumas” Parachutist Smock

Maker Unknown (Label: JUMAS)
Circa 1969 to Late 1970s
Dikutip dari buku Elite karya Ken Conboy, KOPASGAT mulai mengenakan Parachutist Smock loreng vertikal ini sejak Oktober 1969 sebelum akhirnya muncul versi two-piece pada 1983. Varian langka ini memiliki label bertuliskan “JUMAS – Guaranteed Washable” dengan penggunaan zipper merk SOK, sebuah tipe ritsleting misterius yang sangat jarang terlihat di pasar militaria. Hingga kini, belum diketahui pasti apakah JUMAS merupakan produsen lokal atau luar negeri.

→ Baca selengkapnya di Arsip Militer

7. U.S. Army M65 Field Jacket (1st Year Contract)

Contract: DSA 100-3378 (April 1966) by Alpha Industries
Attributed to Green, 101st Airborne Div.
Circa 1968 (Vietnam War Era)
Meskipun iconic, jaket M65 nyatanya sangat jarang dipakai di medan tempur Vietnam. Jika jaket dibutuhkan, masih menggunakan surplus lama seperti M-1951 dan umumnya hanya digunakan di dataran tinggi seperti daerah I & II CTZ. Jaket langka wartime-period yang selamat dengan seluruh patch asli menempel ini milik Green dari 101st Airborne Division “Screaming Eagles” yang bertugas di I Corps. Karakteristik historisnya terekam kuat melalui kombinasi name tape bordir dan airborne tape mesin lokal Vietnam.

→ Baca selengkapnya di Arsip Militer

8. Locally Made M65 Jacket (Wine Leaf / Daun Anggur Camouflage)

Attributed to Serda (Purn) Tja Kiang Tjun
Brigif 13/Galuh, Divif-1 Kostrad TNI AD
Circa 1980s
Arsip jaket M65 Field Jacket buatan lokal bermotif Loreng Daun Anggur / Wine Leaf milik Serda (Purn) Tja Kiang Tjun, seorang prajurit Kostrad TNI AD keturunan Tionghoa yang pernah dikirim ke medan operasi Timor Timur. Beliau memegang kualifikasi langka yang sangat disegani, yaitu Pandu Udara (Pathfinder). Menjadi saksi bisu dedikasi sang prajurit di unit elit ini.

9. Loreng Darah Mengalir Kopassandha

Grup 2 Kopassandha
Circa Late 1970s to 1980s
Arsip set seragam atas-bawah (two-piece) bermotif Darah Mengalir ini menyimpan jejak veteran elit Kopassandha (kini Kopassus) dengan atribut Jumpmaster “one-star” Combat Jump badge, sebuah tanda kualifikasi langka yang mengonfirmasi keterlibatan sang Sersan Kepala dalam penerjunan tempur awal Operasi Seroja pada tahun 1975. Meski sebagian besar patch utamanya kini telah hilang, jejak fisik jahitannya masih terekam jelas pada kain seragam era 1980-an ini.

10. Loreng Coverall Macan Tutul (Spot Camouflage)

Attributed to Pak Lakon Ponidjan – Yonif 531 (Kini Yonif Linud 502/Ujwala Yudha)
Circa Early 1960s
Arsip coverall bermotif Macan Tutul atau spot camouflage milik Pak Lakon Ponidjan dari Yonif 531 (kini Yonif Linud 502/Ujwala Yudha, Malang). Produsen lokal mulai memproduksi corak tutul sendiri pada awal 1960-an, dengan mengadopsi pattern dari M1942 Frog-skin milik Amerika Serikat yang diberikan kepada tentara Belanda yang bertugas di Indonesia.

Talkshow: Beyond Fashion, Archiving History Through Old Clothing

Pada Minggu, 30 Mei 2026 pukul 16.00–18.00, saya naik ke panggung talkshow bersama Sevensky (@sevensky.vtg atau @sevenskytalks). Judulnya Beyond Fashion: Archiving History Through Old Clothing, sebuah diskusi terbuka tentang mengoleksi, merawat, dan alasan kenapa barang-barang lama masih penting.

Premis acaranya sederhana tapi dalam: sebagian pakaian lama bisa bertahan lebih lama dari tren, dari generasi, bahkan dari orang yang dulu memakainya. Dari seragam yang dipakai di medan perang sampai kaos musik yang terikat dengan kenangan, beberapa di antaranya berubah menjadi arsip sejarah, identitas, dan cerita manusia.

Bersama Om Ali dari Sevensky

Salah satu hal terbaik dari acara ini adalah bisa talkshow langsung dengan Om Ali dari Sevensky Vtg. Obrolan di atas panggung berlanjut di luar panggung, dan dari situlah datang ajakan untuk mengisi podcast di Sevensky Talks. Ceritanya akan dicatat di post Dalam Radar berikutnya.

Teman-teman yang datang

Yang membuat hari itu terasa hangat adalah banyaknya teman yang datang. Terutama dari supporter nomor 1 aka pacar jajanotmiharja,

Teman-teman dari Regu Pemburu ada Sebryan dan Dion, begitu juga Rezza of Pvt. Mosante, kak allyshanila, reinaldo, dan banyak teman lain yang menyempatkan waktu untuk mampir.

Showcase pertama memang terasa lebih ringan ketika dikelilingi orang-orang yang sudah lama mendukung dari belakang.

Rekap

Untuk melihat suasana acaranya, tonton rekap berikut.


Terima kasih kepada Lingga dan Kevin yang sudah mengajak, kepada Unfound.idn dan Loxus Cleaner yang menjadikan Unfound Fest terwujud, kepada Sevensky atas obrolannya, dan kepada semua yang datang menengok arsipnya.

→ Instagram Unfound.idn

Comments

Leave a Reply