Featured on Darahkubiru since January 2021.
Darahkubiru adalah salah satu media dan komunitas denim serta gaya hidup terbesar di Indonesia. Bagi saya, Darahkubiru bukan sekadar media yang pernah meliput, Darahkubiru adalah tempat semuanya bermula, jauh sebelum Arsip Militer dikenal.
Ceritanya dimulai tahun 2013, saat masih kuliah, dengan bergabung di forum Darahkubiru. Alasannya sederhana: ketertarikan pada denim dan outerwear, terutama dari brand seperti Barbour, Dehen 1920, Vetra, dan Mister Freedom. Lama-lama terlihat polanya: hampir semua brand itu berkiblat ke pakaian militer. Dari situ, ketertarikan pada outerwear bertemu dengan ketertarikan pada sejarah, dan pertanyaannya bergeser dari “jaket ini bagus” menjadi “jaket ini dulu dipakai siapa, di mana, dan untuk apa?”
Pertanyaan itulah yang akhirnya melahirkan Frownland Supply (kemudian berganti nama jadi Frownland Archive), lalu Arsip Militer. Dan di setiap tahapnya, Darahkubiru ikut mencatat. Berikut catatan perjalanannya, dari yang pertama sampai yang terbaru.
Daftar isi
Januari 2021 — Vintage Life: Military Shirts and Jackets bersama Frownland Supply

Bersama Rafi dan Satria Amp [yang punya aplace_inbetween]
Sudah sempet-sempetinin untuk bkin video di weekend.
Catatan: seragam dipakai untuk keperluan foto saja. Seragam beratribut tidak dipakai untuk sehari-hari.
Ini liputan pertama Frownland di Darahkubiru. Videonya disyuting pada Desember 2020, di penghujung tahun yang berat bagi semua orang, lalu terbit bersama artikelnya pada 10 Januari 2021.
Hari itu satu koper penuh koleksi ditambah beberapa tote bag dibawa ke lokasi syuting, dan tetap saja ada patch yang tidak sempat dibahas. Yang akhirnya masuk ke video dan artikel adalah urutan evolusi seragam US dari Perang Dunia II sampai Perang Vietnam:
- P-43 Herringbone Twill dengan gas flap-nya,
- OG-107 dari Type I sampai Type III,
- M-51 yang jadi cikal bakal M65,
- OG-108 berbahan wool untuk dinginnya Perang Korea, sampai
- Jungle Jacket yang lahir karena seragam lama terlalu tebal untuk iklim tropis Vietnam.
Tapi bagian yang paling penting justru di akhir. Di sinilah pertama kali dibahas secara terbuka soal prinsip mengoleksi true pieces: bukan sekadar seragam tua, melainkan seragam yang benar-benar pernah dipakai di medan perang. Jejaknya masih bisa dibaca dari name tape, patch divisi, dan patch kualifikasi yang menempel. Prinsip ini yang sampai sekarang jadi pegangan Arsip Militer.
Dari sekadar hobi mengoleksi, sampai di-feature di Darahkubiru dan Darahkubiru Style. Dan yang paling berharga dari semua itu: bertemu banyak teman baru yang punya ketertarikan yang sama.
Terima kasih kepada Pak Direz yang sudah menghubungi secara langsung dan membahas idenya sejak awal, serta Rafi Priasmoro dan Satria AMP yang menyempatkan waktu di akhir pekan untuk membuat videonya.
→ Baca artikelnya di Darahkubiru
Agustus 2023 — HRD, Hobi Rakyat DB: Military Session With Zhen

Dua setengah tahun kemudian, Darahkubiru kembali mengangkat cerita Frownland Archive lewat segmen HRD – Hobi Rakyat DB, segmen yang memberi apresiasi kepada anggota komunitas yang menekuni hobinya dengan serius. Saya tampil di edisi ketiga, sebagai salah satu anggota Discord Darahkubiru yang aktif berbagi edukasi dan sejarah seputar military archive.
Edisi ini menandai satu titik balik. Kalau liputan pertama berfokus pada seragam US, di tahun 2023 fokusnya bergeser ke seragam Indonesia. Pergeseran ini tidak lepas dari kesempatan berguru langsung kepada Ken Conboy, penulis yang koleksi loreng Indonesianya luar biasa. Dari beliau pula datang salah satu koleksi paling berharga: loreng Resimen Pelopor era 1960-an, salah satu loreng Brimob paling langka di Indonesia, yang juga dipakai sebagai latar sampul buku beliau, ELITE: The Special Forces of Indonesia 1950-2008.
Cerita lain yang diangkat adalah pertemuan dengan Pak Handono dari Kompi Pemburu Satgas Rajawali III. Semua berawal dari pertanyaan iseng: apakah beliau masih menyimpan relic jaket dari masa tugasnya?? Dari obrolan itu, ternyata banyak foto-foto Pak Han yang beredar di internet tanpa pernah memberi kredit kepada beliau. Pada akhirnya, saya dipercaya untuk merawat tiga jaket beliau, termasuk jaket pribadi yang menemani beliau bertugas di Timor Timur, lengkap dengan provenance dan foto saat bertugas.
Artikel ini juga memuat Do’s & Don’ts mengoleksi militaria, yang sampai hari ini masih menjadi prinsip dasar Arsip Militer:
- Simpan seragam dengan rapi tanpa dilipat, di ruangan bersirkulasi udara baik, jauh dari sinar matahari langsung.
- Usahakan mendapatkan provenance atau surat keaslian langsung dari veterannya, termasuk foto saat seragam itu dipakai bertugas.
- Jangan pernah memalsukan seragam dengan menempelkan patch seolah-olah pernah dipakai veteran saat bertugas.
- Kalau menemukan seragam lengkap dengan atributnya, jangan copot patch-nya. Biarkan apa adanya. Tugas kita melestarikan, bukan menghancurkan.
→ Baca artikelnya di Darahkubiru
Baca juga di Arsip Militer:
- Ken Conboy’s Collection
- Kompi Pemburu Satgas Rajawali III – Han Teknik Military
- Malvinas Jacket TimTim – Satgas Darat Rajawali III Deployment
Juni 2024 — Warga DB: Indonesian Military Jacket featuring Frownland Archive

Kurang dari setahun setelah HRD, Darahkubiru kembali mengangkat Frownland Archive, kali ini lewat segmen Warga DB di Instagram. Kalau dua liputan sebelumnya masih banyak membahas seragam US, edisi ini sepenuhnya tentang Indonesia: tiga jaket militer Indonesia favorit dari koleksi, lengkap dengan cerita bagaimana masing-masing bisa sampai ke tangan Frownland.
Edisi ini juga punya arti khusus. Di keterangan post-nya, Darahkubiru ikut memperkenalkan akun @arsip_militer_indonesia – sekarang @arsipmiliter , akun yang membagikan foto-foto militer langka TNI/ABRI. Bisa dibilang, ini salah satu momen pertama Arsip Militer diperkenalkan ke publik yang lebih luas, jauh sebelum punya website sendiri.
Tiga jaket yang dibahas:
- Denison Smock RPKAD, 1962. Tiruan Denison Smock Inggris era Perang Dunia II buatan Hong Kong, yang dibagikan ke RPKAD tahun 1962 dan hanya dipakai sekitar dua tahun sebelum digantikan loreng Darah Mengalir. Pembagiannya sedikit dan masa pakainya singkat, menjadikannya salah satu holy grail loreng Indonesia. Sejauh ini baru dua yang diketahui masih bertahan. Koleksi ini didapat dari kolektor senior yang sudah mengoleksi loreng Indonesia sejak 1981.

- Vertical Camo KOPASGAT, 1969. Loreng vertikal yang diperkenalkan Komando Pasukan Gerak Cepat tahun 1969. Jaket ini adalah cetakan pertama dari loreng tersebut, dengan konfigurasi Parachutist Smock. Di dunia kolektor, apa pun yang berlabel 1st pattern selalu bernilai tinggi, dan sejauh ini baru satu yang pernah terlihat. Jaket ini datang langsung dari Pak Ken Conboy, lengkap dengan patch dan atribusinya.

- Yon 32 Para Brimob, 1967–1969. Loreng khusus Batalyon 32 Para Brimob, yang bahkan tidak ada di Museum POLRI, dan foto masa itu yang memperlihatkan jaket ini pun sangat jarang. Jaket ini milik Pak RGB Soetrisno, Komandan Batalyon 40 Kawal Khusus (Walsus), dalam kondisi untouched dan full patch. Didapat langsung dari putra beliau, Pak Satya.

Ketiga jaket ini menunjukkan satu benang merah yang sama: nilai sebuah relic bukan hanya dari langkanya loreng, tapi dari jejak siapa yang memakainya dan bagaimana ia berpindah tangan.
→ Lihat post Warga DB di Instagram
Baca juga di Arsip Militer:
- Loreng YON 32 Camouflage
- RGB Soetrisno — Dan Yon 40 Walsus Brimob
- Flowing Blood Camouflage – Loreng Darah Mengalir Kopassandha
September 2026 — The Blue Jeans Soldiers

Lima tahun setelah liputan pertama, hubungan ini naik satu tingkat: dari diliput menjadi berkolaborasi. The Blue Jeans Soldiers adalah kolaborasi riset pertama antara Arsip Militer dan Darahkubiru, sekaligus titik temu dua dunia yang selama ini berjalan berdampingan, yaitu militer dan denim.
Apa jadinya kalau jeans yang biasa kita pakai sehari-hari ternyata pernah menjadi bagian dari sebuah operasi rahasia? Dalam Operasi Flamboyan tahun 1975, personel pasukan khusus Indonesia menyusup ke Timor Portugis dengan pakaian sipil untuk menyamarkan identitas mereka. Rambut gondrong, kemeja kasual, dan tentu saja blue jeans.
Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, cerita ini didokumentasikan. The Blue Jeans Soldiers adalah salah satu upaya pertama untuk melihat penggunaan blue jeans di Timor Timur secara menyeluruh, lewat foto-foto yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
Riset ini tidak akan bisa terwujud tanpa Rifan Kalbuadi. Dokumentasi tahun 1975 dapat ditampilkan atas izin beliau, sebagai pemilik koleksi foto relic keluarga Letjen (Purn.) Dading Kalbuadi dari periode “Blue Jeans Soldiers”. Sementara foto-foto setelah 1975 berasal dari koleksi Arsip Militer dan Frownland Archive, atas izin keluarga dan pemilik koleksi terkait.
Rifan Kalbuadi — Collection Access
Zhen Rezky — Researcher
50 years later, this story was made possible because these photographs survived.
The Blue Jeans Soldiers diterbitkan sebagai special feature pada 22 September 2026 di Instagram Arsip Militer dan Darahkubiru, dan disambut lebih dari 2.300 orang. Di kolom komentar, diskusinya langsung hidup: dari merek jeans yang lazim di tahun 70-an sampai model jaket denim yang terlihat di foto. Persis jenis percakapan yang selalu ingin dibangun Arsip Militer, yaitu sejarah yang dibaca dari detail.
→ Lihat post kolaborasinya di Instagram
→ di Arsip Militer [In progress]
Dari anggota forum di tahun 2013, narasumber di 2021, Hobi Rakyat DB di 2023, Warga DB di 2024, sampai rekan riset di 2026. Terima kasih Darahkubiru sudah ikut mencatat setiap langkahnya.
More to come.



Leave a Reply